Tuhan adalah Aku
BY : PHOE
#ONESTORY
TUHAN ADALAH AKU
Malam
itu, mendung mulai menyeruak. Mengalahkan cerianya kami seharian sepulang
pacaran. Untungnya kami tepat waktu sampai dikosan putri tanpa ada sehelai pun
benang dipakaian kami yang basah. Aku segera mengamankan helm dan memastikan
tidak ada belanjaan di motor yang terancam direndam air hujan.
Lima
menit sehabis kami tanggalkan semua atribut bepergian seperti tas dan jaket,
hujan turun. Aku memasak air panas didispenser sambil membayangkan comfort zone yang akan terbentuk dengan
sempurna, dengan perpaduan antara kopi panas sedikit gula, surya professional
merah dan mendengarkan streaming album
barasuara. Perfecto.
Kupingku
menangkap suara dari arah kamar mandi. Terdengar gemercik air berpola. Tiga
kali aliran air kran terhambat seperti membasuh, tiga kali suara orang melepeh,
dan selanjutnya, dan selanjutnya. Aku yakin ini suara orang berwudhu. Ah benar,
putri jalan berjinjit perlahan dari dalam kamar mandi ke tempat dirinya
menyimpan mukena.
Aku,
sedikit rebahan dikasur yang biasa dia gunakan untuk tidur. Headset ditelinga dan sibuk meniup uap
kopi hitam panas yang kemudian mengalir deras dikerongkongan. Aku suka sekali
perasaan waktu itu. Seperti hanya aku dan Tuhanku saja yang ada dalam detik
itu. Asik sekali.
Seselesainya
putri menunaikan ibadahnya, dia duduk disebelahku dengan mendaratkan bibirnya
di kepalaku. Dia menciumku dan berkata ingin sekali melihat aku sholat juga. Sontak
aku mencopot headset dan menaruh
cangkir kecil berisi ¾ gelas kopi yang belum disruput.
Put…
maaf. Aku memang islam secara institusi dan legalitas, tapi apa yang aku yakini
tidak seperti itu bentuknya. Aku menganut gaya mengimani Tuhan yang berbeda
denganmu. Seperti halnya manusia lain di kanan-kiri kita. Jadi maaf saranmu
yang baik itu tidak aku laksanakan, tapi terima kasih karena telah
mengingatkanku.
Sudah
pasti aku adalah orang yang akan memantik kontroversi apabila aku melontarkan
kalimat tadi di TV dan dihakimi habis-habisan. Aku bukan tidak mengakui diri
sebagai muslim, tapi aku tidak menemukan diriku disitu. Identitasku seperti buyar
dan tidak lagi merasakan diriku sebagai aku. Makanya aku putuskan untuk
melakukan pencarian jati diri dan keyakinan. Aku mengkaji aku lebih dalam.
Phoe
dan putri mulai berdiskusi karena putri adalah orang yang sangat ramah dengan
perbedaan. Dia tidak mempermasalahkan perbedaan sama sekali. Hanya saja dia
ingin mendengar ceritaku dan alasan mengapa aku seperti ini. Kopi panas aku taruh
di meja dan pasrah akan lepasnya kalor ke udara dan menjadikannya dingin. Aku
hanya mempunyai waktu tiga jam untuk menceritakan tentang diriku karena gerbang
kostnya hanya mengijinkan tamu pria sampai jam 10 saja.
Bagiku,
Tuhan adalah sebuah konsep, bukan bentuk. Dia tidak berprofil seperti sebuah
materi. Dia berada dalam ruang metafisis atau sesuatu yang sangat personal.
Kita tidak bisa menyamakan satu Tuhan dengan Tuhan milik manusia lain. Semuanya
berbeda, bahkan Tuhan dari setiap pemeluk agama yang sama.
Semasa
bayi, kita benar-benar ada dan terjadi akibat sentuhan sang maha. Kita
semurni-murninya zat. Namun orangtua kita dan lingkungan tempat kita lahir
melabeli kita dengan beragam kepentingan, mulai dari nama, agama, pandangan
politik, stigma dan paradigma sosial hingga kepekaan seni. Kita tidak bisa
memilih nama kita saat kita lahir bukan?
Menurutku
kita tumbuh dalam pencarian sekaligus upaya untuk melepaskan label-label yang
dipasang oleh siapapun dan apapun, dan melabeli diri sendiri kita dengan apa
yang kita inginkan. Dan aku juga tidak sependapat dengan anggapan bahwa Tuhan
bisa murka seperti yang agama sampaikan karena kita tidak bisa mengadopsi sifat
manusia kepada Tuhan yang maha. Dia adalah perwujudan dari kesempurnaan, dan
tidak akan pantas menyanding sifat serendah manusia.
Diluar
pemahaman tentang atheis atau agnotis yang berkeliaran didiskusi-diskusi anak
muda saat ini, menurutku teologi-teologi itu hanya opsi. Opsi yang dipilih
untuk memahami Tuhan melalui jalan apa. Karena kita berhak memilih label,
memilih rumus untuk menjawab bagaimanakah kita akan mengimani Tuhan kita.
Ibarat
Tuhan itu Nol, jalan menuju Nol tidak terbatas. 1-1, 3-3, 12+8-20, semua
hasilnya akan sama, Nol. Tinggal kita mempercayai metode yang mana. Karena
agama adalah metode yang harus kita pilih secara sadar, tanpa harus ada
pengaruh dari siapapun. Jadi kita tidak sepantasnya menanyakan tentang
panji-panji kesyariatan kepada seseorang. Karena imannya adalah urusannya.
Ketika
kita melakukan sesuatu berdasarkan apa yang kita inginkan, kita sudah cukup
religius. Karena itu adalah sedalam-dalamnya rasa syukur. Syukur atas satu hal
paling berharga yang Tuhan berikan, hati nurani. Suara paling murni dari dalam
jiwa sendiri. Ketika kamu meyakini hati nuranimu, berarti kamu meyakini Tuhanmu
sendiri. Karena Tuhan adalah Aku.
Sebenarnya
obrolan ini panjang karena aku menceritakan tentang sejarah agama di asia
barat, filsafat barat dan teologi kepada putri. Tentu saja bukan dengan bahasa
khas sekolahan yang kaku dan memuakkan. Obrolannya tetap asik-asik saja. Dan
aku menjanjikan waktuku kepadanya untuk menceritakan lebih banyak lagi tentang
agama. Dan perjalananku pulang dibuka dengan ciuman selamat jalan darinya,
pipiput. Mari berkeyakinan!


Komentar
Posting Komentar