Dia temanku, teman terbaikku, Phoe.
"Aku mudah menaruh hati pada orang-orang macam itu. Kebanyakan, aku suka
pada teman dekatku sendiri"
pada teman dekatku sendiri"
Genap
empat tahun aku bersamanya, sebagai teman, teman yang sangat teman, teman yang
sudah tahu bagian terburukku, teman yang sudah tak perlu lagi aku panggil untuk
sekedar kuminta jasanya untuk menemani keluhan-keluhanku jika aku sedang mengalami
hal buruk karena dia pasti lebih dulu datang, entah karena firasatnya yang kuat
atau kebetulan.
Kamu
tahu? Aku mudah menaruh hati pada orang-orang macam itu. Kebanyakan, aku suka
pada teman dekatku sendiri. Entah bagaimana awalnya, tapi pacarku sebelumnya
semua bermula pada pertemanan yang cukup lama.
Kali
ini aku akan berbagi tentangnya, agar terdengar indah mari kita sebut dengan Phoe
(read: Fi). Jelas, dia temanku. Teman satu kelas yang cukup banyak punya ide
jahil yang menjengkelkan banyak orang. Siapa bilang aku menyukainya sejak dulu,
Tidak. Banyak hal yang aku kesalkan pada orang ini, selain memang dia punya
segudang cara untuk membuatku kagum setelahnya.
Rambut
lurusnya yang panjang tak terurus, bajunya yang selalu dekil terlihat, celana
jeansnya yang sobek di sana sini, sepatunya yang usang bahkan tak bisa kusebut
lagi sebagai alas kaki, semuanya. “How sucks He is!”. Apapun itu, aku tak
menyukainya.
2015
mempertemukanku dengan Phoe yang belum pernah ku kenal sebelumnya, entah dia
yang berevolusi atau ini Phoe yang asli. Kepergian Mama membuatku benar-benar
berada di titik terbawah hidupku, aku tak pernah merasa sekosong ini (bahkan
ketika predikat single sudah lama ku punya). Phoe datang seperti mengisi kosong
itu, phoe datang membawa banyak harapan yang sempat aku buang karena merasa tak
tau lagi hidup untuk apa.
Aku
tau, hatinya yang besar, yang selalu siap menolong siapapun yang membutuhkan tenaganya
waktunya bahkan dirinya, memang wajar dilakukannya. Tapi aku menangkap sinyal
yang lain darinya. Seperti ada rasa takut kehilangan deretan-deretan pesan
singkat di handphoneku, aku mulai merasa was-was jika ada yang lain yang lebih
membutuhkan bantuannya. Jelas, ada yang tak beres dengan diriku saat itu.
Aku
adalah perempuan yang cukup menjaga gengsi. Aku tau, itu buruk, bahkan banyak
hal yang membuatku rugi karenanya. Termasuk, ketika aku sedang menyukai
seseorang, gengsiku naik seribu persen, apalagi orang itu adalah teman dekatku
sendiri. Tapi bukan Phoe namanya jika tak tahu apa yang sedang tak beres pada
temannya ini.
Pertemananku
dengan Phoe berjalan hingga sekarang, hingga saat aku menulis cerita ini kita
masih melanjutkan cerita lainnya untukku bagi padamu nanti. Sejak 3 bulan lalu,
pertemanan kita resmi ditambahi dengan sisipan ‘sayang’ di dalamnya. Yap! Kami resmi
berdua. Tidak mudah untuk akhirnya kami bersatu, tapi ini indah, sangat indah
bahkan. Aku tidak sedang tergila-gila padanya, aku hanya ingin mengungkapkan
bahwa “How lucky i am to meet this guy in the right time!” Thanks a lot, Phoe,
teman sekelasku. I love you..


i'm glad to know that you're okay and very happy :))
BalasHapus