Cerita Dalam Tahun Kambing Kayu

"Tangisan, canda, tawa, sedih, senang, sesal, marah, kesal, dan semua rasa lainnya yang sudah terjadi akan aku simpan dalam stoples bernamakan memori tahun kambing kayu

pinterest.com

Sebentar lagi akan banyak ucapan “HAPPY NEW YEAR”, bahkan end year sale sudah terpampang menggiurkan di mana-mana, dan akan ada banyak doa serta harapan-harapan baru terselip dengannya. Kalau boleh, aku ingin membagi tahun kambing kayu ku denganmu. Aku tidak ingin menyebut tahun 2015 dengan tahun terberatku, tapi tahun ini memang membutuhkan lebih banyak kalori untuk dilalui. Seperti hidupku baru dimulai pada tahun ini...

Tahun 2015 penuh dengan kata ‘pertama kali’ buatku, seperti halnya bagaimana cara aku merayakan tahun baru 2015. Pertama kalinya aku punya pengalaman merayakan tahun baru di pantai plus bermalam dengan tenda di tepi laut pantai selatan jawa. Tanpa handphone, tanpa internet, tanpa listrik, dan ini benar-benar asik. Hanya ada aku, suara ombak di laut, desiran angin malam, pasir pantai, dan harapan-harapan yang terbang saat aku berkata ‘Aamiin’. Kau tau, saat itu aku berharap agar aku akan punya banyak moment asik di 2015.

2015-ku penuh kejutan. Awal tahun yang selalu di mulai dari Januari, ternyata sudah mampu mulai menjawab harapan-harapanku. Aku berhasil menyelesaikan praktik simulasi bersama teman satu angkatan, they called ‘Elora’. Kerja keras bersama teman teman dibeberapa bulan terakhir membuahkan hasil memuaskan, setelahnya kami berpelukan, meneteskan air mata, bahagia. We did it!

Selain moment menyenangkan dan penuh kebahagiaan, Januari akhirnya membawaku menuju titik terbawah dalam hidupku. Aku kehilangan ‘aku’, ketika tiba-tiba Mama pergi tanpa tanda. Aku menangis, aku jatuh, aku menyesal, aku marah, aku kehilangan hidupku. Sampai saat aku menulis ini, aku selalu menangis ketika ada cerita Mama terselip di dalamnya. Iya, aku merasakan sakit, sakit yang begitu dalam. Aku jatuh. 2 hari setelahnya, adik perempuanku berulang tahun. Ini ulang tahun pertamanya, tanpa kue buatan Mama. Kami menangis.

Setelahnya, aku bangun secepat mungkin, mencari cara bagaimana hidup ini terus berlangsung, menyelesaikan pendidikanku. Skripsiku sudah menunggu untuk dikerjakan. Entah dari mana aku mendapatkan energi sebesar itu, mungkin aku mencuri semangat dari Sang lebah kesepian yang mencari ibunya, Hatchi. Walau kadang, aku masih kalah kuat dari lebah itu.

Kata siapa skripsiku lancar, sama sekali tidak. Aku pernah sangat semangat, tapi kemudian aku pernah menyerah dan ingin menggantinya, merubahnya dari awal. Iya, aku terkadang kalah bertarung dengan rasa ragu. Sampai akhirnya September membawaku pada kelulusan. Yap! Aku berhasil meyelesaikan studiku, dan ini aku persembahkan buat Mama. Bahkan saat sidang skripsi berlangsung, aku sempat meneteskan air mata karena Mama sempat terselip di dalam percakapan antar  dosen penguji.

Bicara tentang pertama kali, ini kali pertama April-ku tak ada ucapan dari Mama, tanpa doa dan harapannya. Mama absen lagi untuk membuat birthday cake untukku. Bulan Juni, ini pertama kalinya kami bertiga menjalani bulan puasa tanpa Mama. Tak ada lagi suaranya ketika membangunkan kami sahur, tak ada lagi solat berjamaah dengannya, tak ada lagi suara tadarus darinya, tak ada lagi asik berdua di dapur untuk menyiapkan menu berbuka. Dan ini kali pertamanya, kami tak bersama Mama saat lebaran. Sepulang dari solat ied, kami bertiga menangis panjang dalam ingatan kami masing-masing tentang Mama, aku belum pernah melihat Bapak menangis sedalam itu. Hah... Mam, rindu padamu ini tak ada habisnya.

Aku pikir, ketika kehilangan Mama aku kehilang 'aku' seluruhnya, ternyata tidak begitu cara hidup bekerja. Aku kehilangan, kemudian aku menemukan. Setelah Mama pergi, aku seperti menemukan sosok Mama di dalam tubuh Phoe, teman dekatku. Menenangkan, menghangatkan, dan dia terlalu asik untuk menjadi sekedar teman. Dan September meng-Aamiin-i harapanku, kami resmi saling menyayangi.

Desember kembali membawa cerita bahagianya, akhirnya aku benar-benar menyelesaikan studiku, aku wisuda. I’m officially Graduate! Selesai sudah satu tugas Bapak membiayai pendidikan anaknya. Setidaknya, aku berharap dengan begini aku mengurangi beban Bapak. Desember menuntutku untuk terus berpikir maju, terus mencari cara untuk aku melanjutkan hidup setelah ini. Aku merancang aku yang baru. Mencari cara bagaimana aku menginginkan aku hidup. Mencari apa yang sebenarnya menjadi keinginanku. Sampai saat aku menulis ini, aku masih mencari.

Desember membawaku kembali ke rumah, aku selesai dengan kota rantauku. Aku kembali tinggal di tempat yang setiap sudutnya ada memori kuat tentang Mama, seperti rumah adalah Mama. Aku harus siap menggantikan tugas-tugas Mama di rumah ini, aku harus kuat, aku harus pandai seperti Mama. Dan Desember membuatku lebih banyak belajar tentang hidup.

Terima kasih, tahun kambing kayu. Untuk kekuatan yang sudah diberi selama 365 hari ini. Tangisan, canda, tawa, sedih, senang, sesal, marah, kesal, dan semua rasa lainnya yang sudah terjadi akan aku simpan dalam stoples bernamakan ‘memori tahun kambing kayu’. Aku belum pernah merasa se-excited ini untuk menyambut tahun berikutnya datang, kali ini berbeda. Aku sudah menyusun list resolusi untuk 2016 sejak 2015 baru di mulai.



Sekarang doaku lebih banyak, usahaku harus lebih keras, aku harus lebih banyak belajar, harapanku lebih baru dengan aku yang lebih kuat. Dan aku siap membuat cerita lebih banyak lagi, 2016. 

Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer