The Beauty Inside
Siang
tadi aku habiskan dengan menonton sebuah film dengan durasi kurang lebih 2 jam. Ada
satu film yang menarik perhatianku dari semua deretan film yang tersimpan dalam
harddiskku. Iya, sebelum aku pergi Phoe memberikanku banyak film. Katanya, jika
aku jenuh dan belum bisa ke bioskop, setidaknya film-film ini bisa mengobati.
![]() |
| asianwiki.com |
The
beauty inside. Film buatan korea yang rilis tahun ini adalah salah satu, atau
mungkin satu-satunya film favoritku sejauh ini. Ceritanya sederhana, ada sepasang
kekasih yang bertemu kemudian terjadi konflik lalu berpisah dan berakhir dengan
pertemuan yang indah, tapi buatku ‘cinta’ dalam film ini diceritakan dengan
unik.
Pernahkah
terbayang mencintai seseorang yang setiap bangun dari tidurnya memiliki fisik
yang berbeda-beda? Bisakah kau mencintai seseorang tanpa mengenali wajahnya? Bisakah
kau benar-benar jatuh cinta dengan menggunakan hati, bukan suaranya, bukan
rambutnya, bukan matanya, bukan badannya, bukan usianya, dan bukan wanita
ataupun lelaki, tapi kau benar-benar jatuh hati pada hatinya?
Sosok
Kim Woo Jin sejak usia 18 tahun memiliki keunikan yang ternyata diwarisi oleh
Ayahnya, setiap ia bangun dari tidurnya, ia selalu mendapati dirinya
berubah-berubah secara fisik, entah muda atau tua, entah usia remaja atau
anak-anak, entah rabun atau tidak, entah berkebangsaan korea, china, jepang,
inggris dan lainnya, atau paling parahnya bisa jadi wanita atau pria. Hingga suatu
ketika ia jatuh cinta pada seorang gadis yang bekerja pada sebuah toko furniture
besar di Korea, Yi Soo.
Yi
Soo terus berusaha meyakini dirinya bahwa ia akan terus menyayangi Woo Jin
apapun keadaannya, hingga ketika Woo Jin melamar Yi Soo untuk hidup bersamanya,
sisi lain Yi Soo menolaknya, ia terus berfikir bagaimana cara ia mengenalkan
Woo Jin dengan orang lain? Bagaimana dengan keluarganya? Bagaimana dengan
teman-temannya?
Woo
Jin seperti sadar bahwa mimpinya hanyalah mimpi, tak mungkin ia bisa membangun
sebuah mimpi bersama Yi Soo untuk hidup bersama selamanya. Esoknya Woo Jin
memutuskan untuk mengakhiri hubungannya bersama Yi Soo dan menghilang untuk
selamanya. Seiring berjalannya waktu, ternyata Yi Soo merasa kehilangan, ia
rindu Woo Jin. Singkat cerita, Yi Soo kembali bertemu Woo Jin dengan wujud Woo
Jin yang berbeda lagi. Akhirnya Yi Soo yakin bahwa tak apa mencintai Woo Jin
dalam segala bentuknya, ia tak mencintai rupa tapi mencintai hatinya, hati Woo
Jin. Tak peduli bagaimana pandangan orang lain, tak lagi takut bagaimana orang
lain menilai, Woo Jin adalah kebahagiaannya, dan terpisah darinya adalah sebuah
penderitaan yang tak ada habisnya.
Setelahnya,
dikepalaku seperti banyak pertanyaan tentang ‘cinta’. Apakah cinta memang semurni
itu? Apakah cinta yang seperti itu benar ada di kehidupan nyata?
Phoe
pernah bilang padaku (karena ada beberapa faktor) bahwa ia tak lagi percaya pada cinta dalam bentuk apapun,
tapi tiba-tiba aku masuk ke dalam dirinya dalam bentuk yang lain, yang bisa
merubah dirinya bisa memaknai ‘cinta’ lagi. Kalau boleh aku sambung-sambungkan,
Phoe tak pernah memuji-muji rupaku, aku memang bukan wanita cantik yang
memiliki tubuh putih mulus dan langsing bak model yang pandai berpose, tapi Phoe tak ragu memilihku. Aku
berharap Phoe dan aku memiliki cinta seperti Woo Jin dan Yi Soo, hanya saja sekarang
‘kita’ sedang diuji dengan jarak, bukan, bukan hatinya, hanya fisiknya saja,
dan kami masih kepayahan menghadapinya.



😴😴😴
BalasHapus😴😴😴
BalasHapus