Cerita pertamaku tentang seorang wanita bernama, Novi.
"Dia seperti sahabat, dokter pribadi,
psikolog, sekaligus bisa menjadi musuhku"
Aku ingin membagi cerita
pertamaku tentang seorang wanita bernama, Novi. Seseorang yang melahirkanku,
melahirkan adikku, sosok malaikat yang nyata dalam hidup kami, yang biasa kami
panggil Mama. Entah bagaimana Mama melakukannya tapi diusiaku yang sekarang aku
merasa menjadi anak yang masa kecilnya sangat bahagia bahkan terlalu bahagia.
Kami adalah keluarga sederhana, hidup disebuah rumah yang tidak terlalu besar,
yang walaupun tidak memiliki halaman luas tapi tanaman Mama bahkan tak
terhitung jumlahnya. Iya, Mama sangat menyukai tanaman. Katanya, tanaman adalah
anak ketiganya setelah adikku dilahirkan.
Mama adalah perempuan paling
kuat yang pernah aku temui di dunia. Entah bagaimana cara Mama melakukannya
tapi Mama berhasil membuatku merasa Mama bukan sepenuhnya orang tua, dia
seperti sahabat, dokter pribadi, psikolog, sekaligus musuhku ketika kita
berbeda pendapat. Aku beruntung terlahir menjadi anak dari seorang Mama yang
seperti ini. Tak jarang semasa aku dibangku SMP dan SMA teman-temanku datang
kerumah hanya
untuk berbagi curhat padanya. Haaaah.. terkadang aku merasa kalah populer
dengan Mama.
Mama cerewet? Jelas, bahkan sangat (hehe). Omelannya
yang membuatku menggerutu kesal selalu hadir ketika beberapa hal yang
disuruhnya tapi tidak kunjung dikerjakan. Musik di radionya akan selalu ada
untuk membangunkan kami dari daya magnet kasur di pagi hari. Aku tahu pekerjaan
Mama sebagai Ibu rumah tangga sangat melelahkan, sepertinya seumur hidupku Mama
selalu bangun lebih pagi dari kami. Betapa tak tau dirinya aku selama ini.
Mama adalah setengah dari
hidupku,
setengah dari aliran darahku, dan setengah dari nyawaku. Tidak ada satu haripun aku lewatkan tanpa berbagi
cerita apa yang sudah aku lewatkan hari itu pada Mama. Hubungan aku dan Mama
sangatlah dekat, bahkan dalam keadaan terjauhpun jarak antar darah dan nadi tak
dapat mereperesentasikan kedekatan kami. Apapun yang terjadi dan apapun yang
sedang aku perjuangkan sekarang, adalah untuk Mama. Bagiku kebahagiaan Mama
adalah tujuanku untuk hidup.
Aku sayang Mama. Kami sayang Mama. Dan Tuhan lebih
sayang Mama, hingga akhirnya Tuhan ingin Mama berada bersamanya. Tuhan ingin
menjaga Mama sendiri. Tuhan ingin Mama pulang lebih dulu daripada kami,
istananya sudah siap ditempati untuk Mama tinggal di sana. Aku sedih, aku
menangis bukan karena kepulangan Mama, tapi karena kesepianku di dunia tanpa Mama,
kalau begini lebih baik telingaku panas karena omelannya daripada seisi rumah
sesunyi ini tanpanya. Hmm.. Mam, anakmu masih saja suka mengeluh.
Aku rindu, Mam...



Sedih bacanyaaa 😭😭😭
BalasHapus