Dia temanku, teman terbaikku, Phoe.

"Aku mudah menaruh hati pada orang-orang macam itu. Kebanyakan, aku suka 
pada teman dekatku sendiri"

www.tumblr.com

Genap empat tahun aku bersamanya, sebagai teman, teman yang sangat teman, teman yang sudah tahu bagian terburukku, teman yang sudah tak perlu lagi aku panggil untuk sekedar kuminta jasanya untuk menemani keluhan-keluhanku jika aku sedang mengalami hal buruk karena dia pasti lebih dulu datang, entah karena firasatnya yang kuat atau kebetulan.

Kamu tahu? Aku mudah menaruh hati pada orang-orang macam itu. Kebanyakan, aku suka pada teman dekatku sendiri. Entah bagaimana awalnya, tapi pacarku sebelumnya semua bermula pada pertemanan yang cukup lama.

Kali ini aku akan berbagi tentangnya, agar terdengar indah mari kita sebut dengan Phoe (read: Fi). Jelas, dia temanku. Teman satu kelas yang cukup banyak punya ide jahil yang menjengkelkan banyak orang. Siapa bilang aku menyukainya sejak dulu, Tidak. Banyak hal yang aku kesalkan pada orang ini, selain memang dia punya segudang cara untuk membuatku kagum setelahnya.

Rambut lurusnya yang panjang tak terurus, bajunya yang selalu dekil terlihat, celana jeansnya yang sobek di sana sini, sepatunya yang usang bahkan tak bisa kusebut lagi sebagai alas kaki, semuanya. “How sucks He is!”. Apapun itu, aku tak menyukainya.

2015 mempertemukanku dengan Phoe yang belum pernah ku kenal sebelumnya, entah dia yang berevolusi atau ini Phoe yang asli. Kepergian Mama membuatku benar-benar berada di titik terbawah hidupku, aku tak pernah merasa sekosong ini (bahkan ketika predikat single sudah lama ku punya). Phoe datang seperti mengisi kosong itu, phoe datang membawa banyak harapan yang sempat aku buang karena merasa tak tau lagi hidup untuk apa.

Aku tau, hatinya yang besar, yang selalu siap menolong siapapun yang membutuhkan tenaganya waktunya bahkan dirinya, memang wajar dilakukannya. Tapi aku menangkap sinyal yang lain darinya. Seperti ada rasa takut kehilangan deretan-deretan pesan singkat di handphoneku, aku mulai merasa was-was jika ada yang lain yang lebih membutuhkan bantuannya. Jelas, ada yang tak beres dengan diriku saat itu.

Aku adalah perempuan yang cukup menjaga gengsi. Aku tau, itu buruk, bahkan banyak hal yang membuatku rugi karenanya. Termasuk, ketika aku sedang menyukai seseorang, gengsiku naik seribu persen, apalagi orang itu adalah teman dekatku sendiri. Tapi bukan Phoe namanya jika tak tahu apa yang sedang tak beres pada temannya ini.

Pertemananku dengan Phoe berjalan hingga sekarang, hingga saat aku menulis cerita ini kita masih melanjutkan cerita lainnya untukku bagi padamu nanti. Sejak 3 bulan lalu, pertemanan kita resmi ditambahi dengan sisipan ‘sayang’ di dalamnya. Yap! Kami resmi berdua. Tidak mudah untuk akhirnya kami bersatu, tapi ini indah, sangat indah bahkan. Aku tidak sedang tergila-gila padanya, aku hanya ingin mengungkapkan bahwa “How lucky i am to meet this guy in the right time!” Thanks a lot, Phoe, teman sekelasku. I love you..

Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer