Aku, berhenti
“Tenang saja, aku sudah putus dengannya”
![]() |
| tumblr.com |
Sambil direngkuhnya tanganku, dia meyakiniku. Di satu senja
yang redup, sunyi dalam keramaian ibu kota, dia membisikkannya padaku.
“Kita bisa melanjutkan ini, melanjutkan yang sudah kita
bangun sejak lama. Aku sudah tak terikat lagi dengannya.”
Aku terdiam. Menatap mata laki-laki itu, membalas genggaman
erat tangannya, menoleh ke sekeliling taman itu.
Kabar yang dibawanya seharusnya menjadi kabar baik buatku tapi
tidak dengan sekarang. Itu dulu, waktu pertama kali dia mengucapkannya. Kalimat
itu sudah berkali-kali ku dengar darinya. Dia putus-berbaikan-putus
lagi-kembali lagi. Begitu saja diulang-ulangnya.
Aku menyayanginya. Itu kenapa aku selalu punya keyakinan
untuk tetap bertahan. Bertahan pada dahan ranting yang rapuh, tak patah tapi
tak juga berbunga.
“Kau tak seharusnya begini. Ku yakin ini hanya sementara.
Aku sudah mendengar kalimatmu itu berkali kali. Berhenti membahagiakanku dengan caramu yang seperti ini.” Ucapanku memecah keheningan
diantara daun-daun yang bergerak tertiup angin perlahan.
“Hei. Kenapa? Apa yang salah? Ada apa denganmu?” Dia
membalasnya.
Seharusnya pertanyaan itu lebih pantas aku yang ucapkan. Apa
sebenarnya maumu, apa sebenarnya yang kau inginkan dari hubungan diam-diam ini.
Berawal tanpa tahu bagaimana mengakhirinya.
Aku tak punya kata-kata indah untuk mengakhiri ini. Ku lepas
genggaman tangannya, ku tatap matanya dalam-dalam. Ku tahan tangisku agar tak
pecah berserakan di taman yang penuh kisah bahagia bagi kami. Aku tak ingin
mengotorinya.
“Aku yang akan menyudahinya jika kau tak bisa. Terimakasih,
Aku pergi...”
Tanpa persetujuan darinya, ku peluk erat tubuhnya dan segera
ku ambil seribu langkah menjauhinya. Aku berhenti menjadi taman bunga disana,
yang jika kau penat dengan kemacetan ibukota, dengan mudahnya kau dapatkan aku
sebagai penghilang kepenatanmu. Tidak, aku tidak bisa seperti itu lagi.
Bersama tenggelamnya matahari hari ini, ku tenggelam
kesedihanku, ku tenggelamkan penantianku. Malam ini, aku bertemu bulan yang
baru. Disana, cahayanya menemani langkahku menuju malam-malam yang dia tak
mungkin bisa lagi dengan mudahnya menemukanku.



Komentar
Posting Komentar