Perempuan Dari Masa Lalu
![]() |
| tumblr.com |
Pening sekali rasanya malam
itu. Entah bagaimana aku bisa mendeskripsikan rasanya. Si bulan datang
tiba-tiba pagi ini, aku terlambat ke kantor padahal ada meeting penting yang
haram dilewatkan, beberapa tugas kantor belum selesai dan akhirnya terpaksa ku
bawa pulang, Ah... Rasanya hari ini seperti sedang membawa benda yang
berton-ton beratnya di kepalaku ini.
***
Lagi-lagi aku harus menunggu
kereta menuju bogor, menuju rumahku. Beginilah nasib orang-orang pinggiran
Jakarta yang tetap bertahan mengais rejeki di Ibu kota. Pulang kerja malam,
harus menunggu kereta, berdesakan, jangan harap bisa duduk bisa berdiri tanpa
terhuyung-huyung pun sudah bersyukur. Mustahil rasanya bisa mendapatkan tempat
duduk di kereta pada jam-jam seperti ini. Hah... hari ini benar-benar buruk,
bahkan kakiku pun butuh kaki lagi untuk berdiri. Lemas.
***
Sekiar 35 menit berlalu,
kereta yang ku tunggu datang juga. Sengaja aku berjalan agak jauh untuk
menempati kereta pada gerbong pertama. Jelas, aku lebih nyaman berdesak-desakan
dengan sesama wanita dibanding harus berbaur dengan banyaknya lelaki disana.
Bukan, bukan ingin sok suci, tapi aku pernah mengalami pengalaman yang kurang
enak dengan transportasi umum dan laki-laki. Kejadian itu, cukup banyak
membuatku trauma. Tak perlu ku ceritakan bagaimana, yang pasti sebagai
perempuan tak akan terima diperlakukan seperti itu.
***
Sial! Lagi-lagi aku bertemu
dengan daftar hari burukku. Lagi. Handphoneku mati kehabisan baterai, sukses 45
menit kedepan bakalan mati kutu terdiam, menahan sakit dikepalaku, menahan rasa
lapar dan rasa ingin bertemu dengan kasur segera. Mataku mengerjap, memantau ke
sekeliling. Bloom! Tiba-tiba mataku menangkap sesosok perempuan disana. Jelas
perempuan, karena ini kan kereta khusus wanita. Jaraknya hanya sekitar 6 orang
dari tempatku berdiri. Tak jauh, tapi bukan hal yang mudah juga untuk mengamati
seseorang dalam keadaan sesak seperti ini. Beruntung postur badannya lebih
tinggi dibanding perempuan disekitarnya, hingga tak terlalu sulit aku memperhatikannya.
***
Mataku terus menatapnya
lama-lama. Aku seperti mengenalnya, tapi tak ku dapatkan dia dibanyaknya
deretan orang-orang yang ku kenal dalam memoriku, mungkin saja dia terselip.
Sekelebat bayangan seseorang berlalu-lalang, tapi belum bisa ku temukan siapa
dia. Aku mengerjap berkali-kali. Ku fikir, aku sedang sakit kepala, mungkin ini
yang membuat fikiranku agak kacau, seperti pernah bertemu dan sangat
mengenalnya, tapi siapa dia?
Diam-diam aku makin
memperhatikannya, aku tak mau orang-orang menaruh curiga padaku karena sejak
tadi mataku tak berpindah dari perempuan itu. Ku lihat matanya, aku tau betul
siapa yang mengedipkan mata dengan cara yang seperti itu. Ku perhatikan
gerak-gerik tubuhnya, seperti aku pernah hafal betul bahasa tubuh orang yang
satu ini. Kepalaku semakin terasa berat dibuatnya, otakku terus mencari tahu
siapa perempuan ini sebenarnya dalam ingatanku. Dia benar tak asing buatku.
***
Tak terasa jam di tanganku
sudah hampir 40 menit berlalu, artinya aku hanya tinggal menunggu dua stasiun
lagi sebelum akhirnya kereta ini berhenti pada tujuan terakhir, Bogor. Mataku
kembali menatapnya, posisinya sudah bergeser 2 tempat lebih dekat denganku dari
sebelumnya, sudah banyak penumpang yang turun di stasiun-stasiun sebelumnya.
Mataku semakin jelas memperhatikannya. Perlahan, aku seperti mulai mengingat,
mencocokkan benarkah dia yang tersimpan disana, bukan hanya di otakku tapi
hatiku. Aku cepat-cepat menepis bayangan tentangnya. Tak mungkin ku rasa.
***
Kereta sampai pada tujuan
akhir, aku berkesiap untuk turun dan menyudahi hari burukku ini. Dia juga belum
turun, perempuan itu punya tujuan akhir yang sama denganku, semakin memperkuat
bahwa dia benar orang yang pernah ku kenal. Dulu.
Sampai akhirnya ku lihat
tangan kirinya yang sedang menggantung pada kereta. Benar! Aku tak salah. Itu
dia, benar dia. Aku perhatikan dalam-dalam, ada tanda lahir disana. Tanda lahir
yang tak mungkin semua orang punya. Tanda lahir yang hanya dimiliki pacarku
dulu. Rio. Benar, aku mengenalnya saat dia masih bernama Rio.



Komentar
Posting Komentar