Aku pergi sebentar

Hai, Phoe!

tumblr.com

Phoe (read: Fi). Laki-laki bertumbuh gembul, yang selalu punya cara untuk mengkonversi rasa takut menjadi rasa aman dalam pelukannya.

Aku tidak sedang tergila-gila padamu, kau jangan berbesar hati dulu. Aku hanya... hanya sedikit merindukanmu sekarang. Oke, aku berbohong. Aku sangat rindu padamu, Phoe.

Phoe, aku tak ingin membuatmu kelelahan karena membalas pesanku yang membosankan, aku tak ingin kau kerepotan karena rasa rinduku yang tak bisa disembuhkan. Aku ingin membaginya bersama tulisan ini, walaupun ku tau itu tak juga mengobati apapun, setidaknya aku lega bisa memindahkan deretan rasa rindu yang ku kirim ke handphonemu disini.

Entah hari keberapa sejak terakhir aku melihatmu, Phoe. Padahal belum genap sebulan, tapi rasanya seperti sudah sewindu. Aku masih kepayahan.

Katanya, teknologi sekarang semakin canggih, kau tak perlu khawatir dengan hubungan jarak jauh. Aku rasa tidak, teknologi canggih yang seperti apa yang bisa menyembuhkan rasa rindu? Obatnya hanya bertemu dengannya langsung. Video call? It doesn’t work it too for us! Yang kami bisa sekarang, belajar untuk bertahan lebih lama beraktivitas sambil menahan rindu.

Kau boleh saja menganggap kami berlebihan. Tunggu, sampai kau benar berjarak pada orang yang benar kau sayang. Kau masih boleh menarik ucapan yang satu itu.

Bagaimana bisa dengan mudahnya kebiasaan-kebiasaan lama, yang jika aku rindu aku hanya perlu mengirimnya pesan dan sedetik kemudian Phoe muncul didepan pintu atau Phoe lebih dulu ada di depan pintu bahkan ketika jam janjian kita masih 2 jam lagi atau Phoe yang selalu bersedia memelukku saat aku membutuhkannya, Phoe secara real. Tergantikan dengan kebiasaan, hari-hari seluruh percakapan pagi sampai malam sampai pagi lagi hanya akan berhenti pada handphone masing-masing. Kita tak bisa saling menjangkau, kau bisa bilang itu mudah?

Phoe, aku pergi sebentar, ku harap jarak ini tak memberikan arti apapun kecuali rasa kehilanganmu yang semakin besar. Phoe, jangan lagi tanyakan apakah aku merindukanmu, karena jawabannya akan selalu ‘Iya. Aku sangat merindukanmu’. Phoe, aku juga berharap jarak seperti ini adalah sementara, aku tak ingin bertahan berlama-lama berada jauh darimu. Oh iya, Phoe, aku sudah pernah bilang kata-kata selain ‘Aku merindukanmu’ belum? Kalau belum, aku lupa mengatakan satu kalimat lagi..


‘Aku mencintaimu, Phoe’.

Komentar

Postingan Populer