Sungai Kecil Dalam Lautan

tumblr.com

Aku seperti sedang mengharapkan banyak hal tapi tak tau apa dan bagaimana mewujudkannya. Aku seperti terapung dalam sungai kecil yang  tak tau akan bermuara di laut atau tersangkut pada dahan ranting yang menjalar ditepi sungai. Bahkan aku tak benar-benar tau apakah laut benar menjadi tujuan utamaku, atau tersangkut pada dahan ranting adalah cara terbaik untuk aku mempertahankan semua harapan-harapanku.

Lautan di sana luas, bahkan mungkin aku saja tidak terlalu penting untuk berada disana. Aku merasa seperti ada sesuatu yang telah diambil dari sisi ‘yakin’-ku hingga kini habislah kepunyaanku. Aku gontai seperti tak mengerti apa yang sedang terjadi, bahkan hingga kini aku terus mengalir mengikuti aliran sungai kecil yang belum bisa ku lihat seperti apa ujungnya. Dahan ranting di tepi sungai ini tak jarang disangkuti tubuh-tubuh mungil sepertiku, tapi tak satupun ada yang menahan tubuhku dan terus membiarkanku lolos terapung dalam aliran sungai ini.

Hei, sungai ini kecil! Mengapa kau ingin kami menahanmu sehingga tubuhmu tersangkut pada kami?” Teriak salah satu dahan ranting padaku. “Kau tak inginkah melihat aliran air yang lebih besar dari ini?” Lanjutnya. Aku hanya terdiam, kosong, aku tak tau bagaimana menjawabnya. Selagi aku terdiam, tubuhku terus terbawa aliran sungai, dan terus menjauh. Aku menyimpan iri pada mereka yang sudah tau tempat mana yang akan mereka tuju. Dalam perjalananku, aku terkadang terus memandang iri pada mereka yang sudah tersangkut pada dahan-dahan ranting yang besar hingga batang kecil yang rapuh, aku tak bisa melihat apakah mereka benar bahagia, tapi setidaknya perjalanan mereka selesai.

Hei, kau murung? Mengapa tak begitu bersemangat untuk mencapai kesana (laut)?” Sebuah tubuh mungil menyerupaiku menghampiri dan berkata seperti itu. Aku hanya terdiam. “Kau tak pernah mendengar cerita yang menyenangkankah dari sebuah laut?” Dia terus bertanya, tapi aku terus diam. “Kau tau? Banyak tubuh-tubuh disana yang menginginkan laut, mereka tak benar-benar ingin hanya terus berlama-lama tersangkut di tepi sungai, mereka ingin menikmati langit lebih luas ingin melihat matahari terbit dan tenggelam lebih jelas, kau akan punya lebih banyak cerita disana. Jadi, kenapa kau masih terlihat tak menyukai semua hal indah itu?” Bahkan apapun yang diucapkannya padaku, aku tetap diam hingga dia berkata, “Kau tak perlu memandang iri mereka, kau tau kenapa? Mereka juga sedang menatap lebih iri padamu, kau bisa mengikuti alir sungai ini menuju laut, menuju yang diimpikan semuanya, sedangkan mereka tertahan, diam. Menunggu dahan ranting ini patah dan melanjutkan perjalanan menuju kesana yang entah kapan”. Kemudian dia pergi tanpa menunggu aku membalas perkataannya dan melanjutkan perjalanannya dalam aliran sungai ini dengan senang hati.

Aku merasa seperti ‘yakin’ yang hilang tiba-tiba kembali bahkan aku punya double sekarang. Aku tak perlu merasa takut, tak lagi memandang iri pada mereka, walau hingga kini aku belum bertemu pada ujungnya. Setidaknya selagi aku menunggu itu aku terus dapat mempersiapkan diri lebih lama untuk mewujudkan semua harapan-harapanku saat sampai disana. Aku lupa bersyukur, bahwa semua yang sudah ada padaku sekarang yang sering aku keluhkan, terkadang bisa membuat siapapun yang melihatku iri. Aku tak perlu iri pada apapun, dan kau juga tak perlu iri bahkan tak perlu takut pada hal yang sedang kau ragukan, kau hanya perlu yakin. Seperti aku yang sedang meyakini diri sendiri saat ini. Aku yakin perjalanan ini bukan hal yang sia-sia, bukan hal yang perlu dikeluhkan, tapi aku tak berjanji ini tak melelahkan, ini melelahkan bahkan mungkin suatu ketika keraguan itu datang kembali tapi tak apa, keyakinanku dalam aliran sungai kecil untuk bertemu laut lebih besar daripada kekuatan dahan-dahan ranting yang ingin menahan tubuhku terdiam lama bersamanya. Yakinlah, saat kau ragu. Yakinlah!




Komentar

Postingan Populer