Hari ini, Setahun yang lalu

Mama, setahun yang lalu

Hari ini. Selasa, 27 Januari 2015

Hari ini aku bangun setelah matahari sudah memanaskan seisi Jogja, aku bangun kesiangan. Semalam aku lembur mengerjakan tugas laporan ujian praktek terakhirku di semester 7 ini. Entah kenapa aku ngotot menyelesaikannya semalam, padahal jadwal ujianku masih kamis nanti, 2 hari lagi.

Aku bangun seperti biasa, membuka mata seperti biasa, mengawali hari dengan segelas air putih seperti biasa, beranjak dari kasur dan mencuci muka seperti biasa, merasa lapar dan mencari sesuatu untuk dijadikan sarapan pagi seperti biasa. Semua berjalan seperti biasanya, dengan hati yang seperti biasanya pula.

Tiba-tiba handphoneku berbunyi, seseorang disana seperti sedang ingin sekali berbicara denganku, ku lihat disana tertuliskan nama ‘Bapak’. Hatiku tetap terasa biasa saja.

Bapak bilang kalau Mama sedang sakit dan ingin sekali diantar ke dokter bersamaku sekarang juga – Anyway, Mama punya phobia sama rumah sakit, sejak keguguran anak keduanya-. Aku jelas menolak, aku punya jadwal ujian yang tak mungkin aku tinggalkan disini, jadwalnya masih 2 hari lagi, setelah itu baru aku bisa pulang. Tapi kemudian, dari sebrang sana bersamaan dengan suara Bapak yang segera menyuruhku mencari tiket pulang, aku mendengar samar-samar ada seseorang yang sedang menangis, sangat menangis. Aku fikir, itu adalah suara Mama menangis, menahan sakit dan segera ingin diobati. Aku ikut menangis karena mendengar (yang ku fikir) tangisan Mama. Akhirnya, aku putuskan untuk menghadap dosen agar aku bisa ujian susulan.

Aku panik. Sangat panik. Terlebih pagi ini, jam 8:07 AM aku masih mengirimkan pesan singkat ke Mama seperti pagi-pagi biasanya ‘Selamat pagiiiiii mam... Gimana keadaannya hari ini?’ dan nihil jawabannya. Kemudian, aku berniat menanyakan kabar Mama lewat adikku, dan dia membalas kalau ternyata dia sedang di sekolah. Bersamaan dengan itu, sepupuku juga mengirimi aku pesan menanyakan kabar Mama, tapi ku jawab Mama baik-baik saja. Karena memang Mama selalu baik-baik saja buatku. Kemudian, sepupuku membalas kalau dia baru saja menelfon adikku dan adikku sedang tak ingin menerima telfon dari siapapun, akhirnya sepupuku berbicara dengan budeku lewat handphone adikku. Aneh, aku merasa ada yang tidak beres, barusan adikku menjawab pesanku sedang berada di sekolah, tapi kenapa sepupuku seolah-olah memberitahu bahwa adikku sedang tidak benar-benar berada di sekolah. Aku semakin menangis.

Tanpa pikir panjang, tanpa mandi, tanpa ku sentuh sarapan yang baru saja ku beli, aku bersiap-siap. Ketika hendak keluar kamar dan ingin meminta bantuan dengan teman kamar sebelahku, ternyata dia sudah lebih dulu ada di depan kamarku tanpa ku minta. Aku menangis padanya, menceritakan keinginanku untuk pulang. Dan diantarnya aku menemui dosenku di kampus.

Singkat cerita, aku berhasil mendapatkan izin dari dosenku untuk ujian susulan dan aku berhasil mendapat tiket pesawat siang ini juga. Semua berjalan begitu mudah hingga akhirnya, sampailah aku di Bandara Adi Sucipto. Pesawatku delay satu jam lebih, aku menunggu dengan lemas.

Saat itu perasaanku masih biasa saja kecuali rasa lapar yang teramat sangat, aku ingat sarapanku belum sempat aku telan. Selagi menunggu, aku masih sempat membuka beberapa social media untuk membantuku membunuh waktu, aku masih berkirim-kirim pesan untuk berpamitan pada teman-teman di Jogja,  bahkan aku masih sempat update location di Bandara Adi Sucipto pada akun Path-ku, ku update dengan caption  ‘Demi Mama cepat sembuh’.

Aku lupa tepatnya, sekitar jam setengah 4 sore akhirnya aku tiba di Bandara Halim. Aku di jemput beramai-ramai, mereka semua memasang wajah ceria. Aku pun menyambut pelukan mereka dengan senyuman, hanya saja aku sedikit tak bersemangat, selain karena aku berfikir tentang keadaan Mama sekarang, dari bangun pagi tak ada satu butir nasipun yang masuk ke dalam sistem pencernaanku.

Sepanjang perjalanan menuju entah kemana aku dibawa, aku lebih banyak diam. Tak ada yang janggal, mereka semua bercanda seperti biasa, membicarakan hal-hal seperti biasanya. Semuanya. Ku fikir, aku tak perlu lagi merasa khawatir, karena sebentar lagi aku akan bertemu Mama, aku terus berusaha menenangkan diri.

Aku mengira setelah sampai bandara, aku akan diantar ke rumah sakit, bertemu Mama yang tergeletak lemah di ruang ICU dengan banyaknya alat-alat medis yang masuk ke tubuhnya. Tapi ternyata aku salah, mobil ini melaju ke arah rumahku. Aku ingat betul jalan menuju rumahku sendiri, aku belum pikun walau aku memang sudah lama tak pulang, tak bertemu Mama.

Kira-kira berjarak 15 menit lagi aku sampai dirumah, tiba-tiba mobil berjalan lambat, aku tetap merasa biasa saja sampai ketika sepupuku menyampaikan sesuatu padaku. “Mba, Mamamu kan sakit seminggu kemarin, tapi sekarang udah sembuh. Tuhan berkendak lain, Mama ikut nyusul Mama Nosi –Saudara kembar Mama yang meninggal 3 tahun lebih dulu- Mama udah baik-baik aja disana.“

Seketika aku tak bisa bernafas, aku tak bisa lagi mendengar kalimat selanjutnya, aku berusaha menyadari bahwa ini bukan mimpi, ini nyata. Mama meninggal, aku benar kehilangan Mama, orang yang benar-benar berpengaruh dalam hidupku meninggalkanku. Aku kehilangan hidupku. Mama, nyawaku, aku benar-benar kehilangannya sekarang.

Aku terdiam beberapa detik, setelahnya emosi ku memuncak, aku tak lagi bisa berfikir selain penyesalanku, aku menangis sekencang-kencangnya, aku meneriakkan ‘Mama.. Mama.. Mama..’ sekeras-kerasnya. Aku tau, semua berusaha menenangkanku, mengingatkanku untuk mengikhlaskan kepergian Mama, aku mendengar semuanya berkata seperti itu padaku. Tapi aku sedang tak ingin mempedulikan siapapun. Aku sedang ingin menangis, menghabiskan seluruh stok air mata yang aku punya. Aku tak peduli.

Setibanya di gerbang perumahan, ada satu bendera kuning sudah bertengger di sana. Aku yang sudah mulai reda, kembali memecahkan rasa sedihku. Aku semakin menangis, menangis sejadi-jadinya. Aku lihat disana rumahku, sudah ramai dengan orang-orang, dengan mobil dan motor terpakir disana-sini. Aku lemas. Sangat lemas. Sejujurnya seumur hidup aku belum pernah mengalami pingsan, tapi hari ini sekujur tubuhku lemas, aku tak bisa mengendalikannya. Untuk turun dari mobil dan masuk kerumah saja aku harus digotong oleh Bapak dan beberapa orang yang sudah siap menyambut tangisanku datang.

Sesampainya dirumah semua orang memelukku, menangis padaku, semua berusaha menenangkanku. Tangisku terhenti, aku terdiam, aku kosong melihat sesosok manusia disana. Mama terdiam, kaku, dingin, berbalut kain putih dengan matanya tak lagi dapat melihatku, dengan tangannya yang tak lagi bisa memelukku. Aku memberanikan diri, memandanginya dari jarak dekat, kupastikan air mataku tak lagi ada yang jatuh dihadapannya untuk terakhir kali, aku menyentuhnya, menciumnya, memeluknya, semuanya tanpa balasan. Mama tetap diam. Dalam hati, aku meminta maaf atas apapun hal yang pernah menyakiti hatinya, walau aku tau itu terlambat, aku tetap mengucapkan ‘Maaf’ berpuluh-puluh kali padanya saat itu.

Aku mengantar Mama sampai Mama tubuhnya tak lagi dapat terlihat dibawah sana. Aku mengantar Mama pulang. Aku memeluk Mama dalam bentuk gundukan tanah dan nisannya saat itu. Dan Bapak memaksaku pulang karena hari mulai gelap.

Aku sampai lagi di rumah, rumah yang bentuk masih sama tapi sekarang benar-benar berbeda. Rumah ini tak akan lagi pernah sama. Tanpa Mama, semua berubah. Tak pernah menduga waktu Mama habis secepat ini. Sempat terlintas difikiranku bahwa tak ada lagi gunanya aku hidup. Mama adalah aku, segalanya adalah Mama buatku, dan sekarang segalanya hilang.

Mama pergi tanpa tanda. Mama meninggalkanku tanpa isyarat. Aku tak sedikitpun memiliki firasat bahwa hari ini adalah harinya, aku tumpul.

Malam itu aku tidur ditempat Mama terakhir menghembuskan nafas hidupnya, aku ingin bersamanya, sekali lagi. Aku merindukan Mama. Aku menangis lagi.


Hari ini. Kamis, 27 Januari 2016

Pagi ini tak terasa, ternyata sudah genap satu tahun Mama pulang. Tahun ini aku sudah siap kembali ke rumah, aku selesai dengan kota rantauku. Semuanya berbeda tanpa Mama. Padahal baru 365 hari sejak dia tidak disini, tapi aku sudah banyak kepayahan untuk mengingat memori saat bersamanya.

Kami berhasil menjalani satu tahun tanpa bantuan Mama di sini. Jelas, kami lewati dengan banyak kesulitan. Aku masih menangis, adik masih menangis, Bapak juga masih menangis saat ingatan-ingatan dan pengandaian tentang Mama bermunculan di kepala kami.
Mama segalanya buatku, buat kami bertiga.

Mam.. sedang apa disana? Nyamankah Mam disana? Aku rindu Mama, rindukah Mama terhadapku? Aku takut mam, ingatan-ingatan tentang Mama mulai pudar. Satu hari, aku pernah mengutuk diriku, kembali menangis sejadi-jadinya karena aku tak pandai mengingat, aku bahkan hampir lupa rasanya pelukanmu saat aku butuh ketenangan, aku hampir lupa pada rasa masakan-masakan favoritku yang mama buat saat aku pulang dari Jogja, aku hampir lupa rasa usapan rambut penuh kasih sayang darimu, aku lupa rasa dinasehatimu, aku lupa rasa dikhawatirkanmu. Bodohnya aku.

Mam.. terkadang aku masih menyimpan iri pada mereka yang masih bisa memeluk ibunya dengan waktu yang lebih lama dibanding dengan waktu yang aku punya saat memelukmu.
Mam, mampirlah ke dalam mimpiku kapanpun kau rindu aku. Setidaknya, aku bisa merasa bersama Mama lagi walaupun itu hanya mimpi.

Mam, mampirlah ke dalam mimpi adik, sampaikan padanya jika dia butuh tempat berbagi seperti halnya dulu dia membaginya padamu, carilah aku dan suruh dia berbagi padaku. Aku sudah bilang sendiri, tapi mungkin jika kau yang bilang dia akan lebih terbuka kepadaku.

Mam, mampirlah juga ke dalam mimpi Bapak. Sesering mungkin, Mam, agar dia tak merasa kesepian. Aku tak bisa menjadi obat rindu saat yang dia rindu adalah Mama, walau kata orang-orang aku memiliki wajah lebih mirip denganmu dibanding dengan saudara kembarmu sendiri. Sampaikan pada Bapak, jangan terlalu menaruh rasa cemas pada aku dan adik, aku bahkan sudah bisa membantu membimbing adik, aku sudah besar Mam. Sampaikanlah itu, Mam.. aku tak ingin Bapak terlalu khawatir pada kami.

Kalau boleh aku berdoa, aku ingin seluruh ibu didunia ini punya waktu untuk menemani seumur hidup anak-anaknya. Sehingga, tak ada lagi yang merasa kesedihan seperti sedih yang aku punya sekarang. Tapi jelas, itu tak mungkin.


Hari ini, aku sedang agak repot untuk mempersiapkan acara ulang tahun adik besok. Usianya menjadi 17 tahun 2 hari lagi, dia merasa sedikit iri kepadaku. Bukan, bukan karena banyaknya hadiah yang kuterima atau karena meriahnya acara ulang tahunku saat itu. Dia iri, karena saat aku mendapati usia 17 tahun, Mamalah orang yang paling repot membuat ulang tahunku yang sederhana menjadi berkesan.  Dia ingin, Mama juga begitu terhadapnya, dan sebagai gantinya aku yang mengambil posisi Mama sekarang. Mam... kerinduan ini tak akan ada habisnya.

Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer